Wednesday, September 30, 2020
Home > Life > Environment > TPA Mandiri Butuh Sentuhan Tehnologi di Tangsel

TPA Mandiri Butuh Sentuhan Tehnologi di Tangsel


Banten-News | Environment | Tangsel

Laporan Diaz 

“Buanglah Sampah pada Tempatnya”? Jargon kebersihan ini begitu populer bertahun-tahun melintasi beberapa generasi.  Tidaklah mengherankan bila kebanyakan masyarakat memiliki persepsi bahwa sampah harus dibuang.  

Dimanakah tempatnya? Bila dibuat survei, kita yakin jawaban teratas adalah keranjang sampah. Bila surveynya dilakukan sampel diantara masyarakat perkotaan, maka tentu akan banyak juga yang menjawab TPS atau TPA akhir mandiri. 

Dari sisi pengelolaan sampah perkotaan (urban waste management) tentu ini hal yang menggembirakan bahwa masyarakat mengetahui alur pengolahan sampah adalah dari sumbernya (rumah tangga, kantor, tempat publik, dsb.red) ke TPS kemudian berakhir di TPSA (Tempat pembuangan sampah akhir.red).

Banten-News.com mencoba menyambangi TPA Mandiri milik warga, Kepemilikan lahan peruntukan TPA yang berlokasi di Jalan Arjuna RT 01/RW 09 Pondok Benda, Pamulang Tangerang Selatan.

Penampungan sampah akhir yang menampung sampah warga sebanyak 5 RW sudah berjalan hampir dua tahun dengan memperkerjakan tujuh orang pesapon.

“Penampungan sampah yang tiap harinya dipergunakan hanya untuk limbah rumah tangga ini menghasilkan dua ton per minggu,” kata Ahmad Asuk pengelola, hari ini (4/7/2020).

“Ini hanya (Tempat Pembungan Sampah ) membantu warga yang kesulitan dalam membuang sampah, limbah rumah tangga, dan kami pengelola juga memperdayakan beberapa warga untuk mengambil sampah dari rumah ke rumah warga”, tuturnya.

“Masih jauhlah kalau disebut komersil, ini juga kan tanah keluarga yang sudah disepakati dalam keluarga kami,” ujar Ahmad Asuk pengelola sekaligus pemilik lahan yang dipercayakan keluarga.

Dimulai dengan niat baik awalnya kita kelola beberapa rukun warga, ya! Hanya satu RW dulu kita kelola hingga sekarang ini. Memang dari segi pengelolaan belum bisa dibilang tersentuh tehnologi,” bebernya.

“Ya! Kami disini sangat terbuka sekali jika pihak dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan ingin memberikan solusi dan jalan keluar yang sama sama baik. Bukan hanya bilang “ini harus ditutup” tetapi harus ada solusi dari kata ditutup tadi. Bagaimana pekerja yang sudah lama merintis dari nol disini. Ini kan perlu wadah juga agar bisa mencari penghidupan,” tegas Ahmad Asuk.

“Sebuah kota biasanya sangat bermasalah dengan yang namanya sampah, termasuk  Kota Tangerang Selatan (Tangsel),” ucapnya.

Data  dari Dinas  Lingkungan Hidup (LH) Kota Tangsel menunjukkan produksi sampah rumah tangga dan industri dalam sehari sebanyak 100 ton dan 15 persennya merupakan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang.

Sampah di sebuah kota memang menjadi masalah besar. Hal itu disebabkan kelangkaan lahan kosong untuk bisa dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah karena semua berubah menjadi tempat tinggal.

“Berbeda dengan Kabupaten yang wilayahnya luas dan daerah kosongnya banyak,” ujar Ahmad Asuk.

Menjadi sangat miris ditengah kasus TPA Cipeucang, berbau korupsi yang menyengat, tetapi masih ada warga tangsel yang merelakan lahannya digunakan untuk aktivitas pembuangan sampah yang dikelola dengan memberdayakan beberapa warga bekerja menjadi pengepul sampah limbah rumah tangga,” Ini buktinya kami kelola sendiri,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Asuk, Pihak DLH Tangsel hanya berdasarkan laporan segelintir warga, yang mungkin yang melaporkan itu limbah rumah tangganya dibuang di tempat itu tetapi tanpa solusi yang berimbang. 

“Pihak DLH Tangsel hanya mengatakan TPA Mandiri harus ditutup tapi tidak memberikan solusi padahal lahan ini milik warga yang bersedia dijadikan TPA Mandiri berbasis tehnologi tinggi,” pungkasnya. (Mlt)

Admin
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close