Friday, October 22, 2021
Home > Views > Commentary > Tebar PESONA Dimasa Pandemi Melanda 

Tebar PESONA Dimasa Pandemi Melanda 


Banten-News | Commentary | Tangerang Selatan

Oleh  :  Dr. Abidin (Pengamat Sosial dan Politik)

Ternyata yang suka tebar pesona bukan hanya Lord Luhut, tetapi teman-temannya juga. Selama ini kita melihat Lord Luhut adalah solusi dari setiap masalah di negeri ini. Masalah kemaritiman, investasi, hingga pandemi Covid-19, Lord Luhut adalah solusinya. Wajahnya wara-wiri di berbagai media, sehingga popularitas Lord Luhut bisa saja mengalahkan Presiden Jokowi.

Walaupun masa bhakti periode kedua Lord Luhut eh Presiden Jokowi masih tersisa sekitar 3 tahun lagi, namun para koleganya tak mau kalah populer dari kedua tokoh tersebut. Perhelatan pemilihan presiden pun baru akan digelar tahun 2024. Namun, orang-orang yang kepedean dan merasa layak untuk menjadi bakal calon presiden, sudah bersiap untuk ikut berkompetisi.

Seperti yang sudah-sudah, baliho lah yang menjadi salah satu pilihan favorit mereka untuk menjajakan dirinya. Baliho dengan berbagai ukuran, bentuk, dan jargonnya dengan mudah dapat kita lihat di berbagai tempat. Baliho dipasang di ibu kota negara, propinsi, hingga kabupaten dan kota se-Indonesia.

Dengan cara itu, mereka berharap popularitasnya untuk mendapatkan tiket calon kursi RI-1, semakin meningkat. Demi tebar pesona, biaya mahal pun tetap dipilihnya. Secara rata-rata, tidak kurang dari Rp. 15 juta per bulan, mereka harus merogoh kantongnya untuk membayar biaya reklame di satu titik yang strategis, khususnya di kota besar.

Satu orang bisa memasang lebih dari 10 titik. Itu artinya, satu orang harus merogoh koceknya minimal Rp. 150 juta/bulan. Jika di setiap ibu kota propinsi dipasang 10 titik saja, maka besaran kocek yang harus dikeluarkan setiap orang lebih dari Rp. 5 milyar/bulan. Angka yang cukup besar bukan?

Apalagi jika diakumulasi dengan jumlah orang yang balihonya sudah beredar saat ini. Minimal ada 4 orang yang balihonya sudah beredar di berbagai tempat. Sebut saja AHY, Cak Imin, Mbak Puan, dan Airlangga Hartarto. Akumulasinya menjadi fantastis. Lebih dari Rp. 20 milyar/bulan. Luar biasa. Hanya orang yang beruang lah yang bisa ikut berkompetisi. Walaupun ada sih yang ngaku itu dana saweran dari para kader. Apa iya??? Hmmmm…..

Tidak hanya dana yang fantastis. Jargonnya juga keren-keren. Jargonnya AHY yaitu Berkoalisi Dengan Rakyat. Cak Imin tidak mau kalah, jargonnya mirip lagu wajib nasional yaitu Padamu Negeri Kami Berbakti. Airlangga Hartarto memilih Kerja Untuk Indonesia. Jargon pilihan Mbak Puan adalah Kepak Sayap Kebhinekaan. Wis, sakarepmu wae lah.
Pantas tidak sih mereka tebar pesona di tengah pendemi Covid-19 yang melanda Indonesia saat ini? Tergantung dari mana sudut pandangnya. Kalau kata pendukung dan timses pasti pantas-pantas saja. Tapi bagi saya, tebar pesona dengan cara ini tidak tepat waktu dan tidak tepat pula caranya. Ada cara tebar pesona yang lebih cantik di kala pendemi Covid-19 melanda Indonesia saat ini.

Di tengah kondisi negara yang terdampak oleh pandemi Covid-19, korban pun terus berjatuhan. Setiap hari terjadi pertambahan jumlah warga yang terpapar maupun meninggal. Sebuah kondisi yang memerlukan penanganan serius dan dukungan dana yang tidak sedikit. Namun, sebagian orang justru bakar duit dengan melakukan tebar pesona dan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Sakit rasanya hati ini. Dimana empati kalian???

Saat ini, masyarakat sedang mengalami kesulitan secara ekonomi. Pengangguran bertambah dimana-mana. Jumlah masyarakat miskin pun terus meningkat. Ditambah lagi masa depan yang tak pasti, karena kondisi ini terjadi tanpa diketahui kapan akan berakhir. Sungguh kondisi yang sangat sulit bagi sebagian besar warga negara Indonesia. Wis, angel iki angel….

Sungguh, saat ini adalah waktu yang tidak tepat untuk melakukan curi start wahai para penebar pesona…. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk saling menguatkan, saling peduli dan membantu sesama anak bangsa. Kalian harus menjadi tauladan dan berdiri di barisan paling depan. Menjadi figur yang mengayomi masyarakat yang telah memilihnya menjadi tokoh nasional. Ini baru T.O.P.B.G.T alias top bingit.

Dengan Rp. 20 milyar/bulan, maka akan ada ribuan kepala keluarga yang terbantu ekonominya. Jika dana tersebut dikonversi menjadi beasiswa bagi mahasiswa, maka akan ada ratusan mahasiswa yang terbantu. Jika dikonversi untuk membantu UMKM, maka akan sangat besar dampaknya bagi keberlangsungan usaha tersebut. Bermanfaat bukan?

Sekaranglah waktunya bagi kalian menunjukkan keberpihakan kepada rakyat konstituen kalian. Sapalah mereka dengan perhatian dan kasih sayang. Wujudkan janji-janji yang dulu pernah diucapkan. Kalau dulu engkau yang butuh dengan bantuan suara mereka, maka saat ini merekalah yang butuh uluran tanganmu.

Saya yakin, jika ini yang dilakukan maka tidak hanya masalah popularitas yang diraih, namun dampak pandemi pun dapat diatasi. Kesan baik bukan lagi pencitraan, melainkan fakta yang tak terbantahkan. Sang tokoh menjadi tambah populer, citranya semakin baik, didukung fakta yang meyakinkan, maka puncaknya tahun 2024 ada di tangan.

Hmmmm…. Tapi yo wis lah, pasti kalian ga bakalan mau terima usulanku. Sekarang begini saja lah, daripada Mas AHY yang gagah dan ganteng mengeluarkan budget yang besar untuk memasang baliho, mending toh, Mas, uangnya buat membelikan Mbak Annisa sepatu mahal yang belinya di luar negeri seperti beberapa waktu lalu itu lho. Biar istri jenengan semakin cinta.

Untuk Cak Imin, kalau memang mau mengabdi untuk negeri ini, tidak perlu pasang baliho juga buat ngasih tahu ke orang-orang. Gunakan saja uangmu itu untuk traktir konco-koncomu biar lebih loyal dan total dukung jenengan. Lagian pake jargon seperti itu sudah dapat izin dari Pak Kusbini belum? Kalau belum hati-hati lho, nanti kena pasal plagiasi, hihihi…..

Mbak Puan Mbak Puan…. Andaikan engkau bisa mengepakan sayapmu lebih tinggi dan lebih kuat lagi, pasti engkau akan tahu apa yang sesungguhnya terjadi di tengah-tengah rakyatmu. Engkau akan tahu kebhinekaan yang terjadi di antara penduduk negeri ini. Sayangnya, kepak sayapmu hanya mampu untuk mematikan mic seperti waktu itu. Uppsss…..

Pak Airlangga, kami tahu engkau putra dari orang yang sangat berjasa untuk negeri ini. Ayahmu wara-wiri berkarya di kabinet pemerintahan orde baru besutan Pak Harto. Hebat sekali bibit dan bobot anda. Tapi ayahmu tidak pernah tuh menulis bekerja untuk Indonesia. Belajarlah dari kerendahan hati ayahmu, Pak Airlangga. Rakyat juga tahu siapa yang bekerja untuk Indonesia dan siapa yang bekerja untuk kroni-kroninya.

Biarkan rakyat kenyang dengan melihat baliho kalian yang ada di mana-mana. Tapi ketahuilah, mereka ini tidak butuh senyum simpul dan jargon yang ndakik-ndakik yang bertebaran di pinggir jalan itu. Pikiran rakyat itu sudah semrawut kenapa harus ditambah semrawut dengan melihat baliho-baliho yang memenuhi setiap sudut jalan? Kenapa harus tebar pesona sedangkan rakyat tengah kelaparan? Ra mashok!!!. (MBC-BTL)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *