Tuesday, December 6, 2022
Home > Views > Commentary > Oligarki Panik dan Gemetaran  TAKUT Anies MENANG !

Oligarki Panik dan Gemetaran  TAKUT Anies MENANG !


Banten-News | Commentary | Bandung

Oleh  : M. Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Kebangsaan)

Berita cukup menggelitik pada acara Cokro TV Ade Armando mengajak kaum Nasrani untuk tidak memilih Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Menurutnya memilih Anies Baswedan itu sama dengan menukar iman. Kontan banyak pihak mereaksi negatif atas ajakan Armando. Lucunya teman sejawatnya, Abu Janda turut mengecam politik identitas Ade.

Sikap berlebihan Ade Armando adalah cermin dari kepanikan bahwa Anies Baswedan sulit tertandingi. Termasuk oleh jagoan Ade sendiri yakni Ganjar Pranowo. Head to head Anies unggul dibanding Ganjar atau Prabowo. Hasil survey CSIS adalah contoh. Gegap gempita sambutan Anies jauh melebihi keduanya.

Ade Armando yang sudah babak belur digebukin makin bonyok saja fikirannya.
Mengajak umat Kristen  tidak memilih Anies Baswedan dengan alasan tukar iman adalah pandangan picik dari seorang dosen kampus ternama.

Anies telah membuat panik banyak kalangan, antara lain  :

Pertama, kalangan buzzer si tukang dengung. Denny Siregar, Eko Kunthadi, Nong Darol, Ade Armando dan lainnya terus menyuarakan “ngak ngik ngok” dengan nada lirih dan khawatir. Mencicit seperti tikus celurut.

Kedua, partai koalisi pemerintah. PDIP yang semakin teralienasi. Nasib satu koma  Puan bukan tandingan Anies. KIB nampaknya terbelah. Banyak kader PPP, PAN, dan Golkar menyuarakan Anies. Gerindra kehilangan kepercayaan diri dan semakin bingung untuk kawin paksa dengan Cak Imin. Prabowo bakal kalah KO.

Ketiga, Jokowi sang Presiden yang plin plan. Plin nya ingin tiga periode plan nya dukung Ganjar. Plin nya Wapres dari Prabowo plan nya dukung Erik. Plin nya tidak ada Pemilu, plan nya Gibran jadi Gubernur melalui Pemilu. Mengganjal Anies dengan jurus mabuk.

Keempat, KPK yang tidak ajeg. Firli ingin Anies berstatus tersangka untuk kasus Formula E, tetapi anggota tidak temukan bukti. Sebaliknya KPK dituntut harus bongkar kasus e-KTP Ganjar dan Puan, temukan Masiku, serta periksa dugaan penyimpangan APBN dan isu korupsi Jokowi saat Walkot Solo dulu.

Kelima, lembaga survei pesanan. Dukungan membludak Anies menyulitkan setting permanen. Prabowo nomor satu, Ganjar kedua dan Anies buncit. Kepanikan terbukti dengan mulai tidak sering muncul survey. Di samping pembiayaan seret, juga sulit untuk terus menerus membodohi rakyat. Lembaga survey adalah pabrik hoaks terbesar.

Kepanikan pada banyak elemen menyebabkan Jokowi didorong untuk mengambil sikap terbaik yaitu mundur. Diawali dengan anggota Kabinet ‘nyapres’ yang segera mundur. Ternyata buru-buru lembaga kacung istana MK segera memutuskan bahwa Menteri tidak perlu mundur jika maju sebagai Capres.

Anies berpeluang besar menang. Rezim Jokowi terus memusuhi dan mengganjal. Bumi hangus adalah pilihan terakhir. Pemilu dicoba digagalkan dengan dua alasan krisis keuangan atau Covid 19 yang dianggap masih membahayakan. PPKM diperpanjang.

Inmendagri No 47 tahun 2022 dikeluarkan untuk memperpanjang PPKM tersebut. Kebijakan yang diteriaki publik karena dianggap mengada-ada. Covid 19 tetap bermakna untuk menakut-nakuti. Ujungnya tidak ada Pemilu. Presiden, DPR dan lainnya diperpanjang periode. Ini adalah antisipasi pahit atas Anies yang berpeluang besar mengalahkan Ganjar, Prabowo, Puan dan lainnya. Oligarki panik dan gemetaran. (BTL/Bn)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.