Friday, October 22, 2021
Home > Views > Commentary > NEGARA INDONESIA MEMANG LUAR BIASA ?

NEGARA INDONESIA MEMANG LUAR BIASA ?


Banten-News | Commentary | Tangerang Selatan

Oleh  : Dr. Nurudin Hery Kustanto (Enhaka), MM (Aktivis Muhammadiyah BSD)

Di negeri tercinta Indonesia ini ada namanya lembaga tertinggi negara dan ada juga lembaga tinggi negara. Kalau tidak salah Presiden dan MPR masuk kategori lembaga tertinggi negara. Sedang DPR, BPK, MA, dan lainnya masuk kategori lembaga tinggi negara. Karena ada kata tertinggi dan tinggi maka selayaknya yang menduduki posisi tersebut adalah orang pilihan, tidak hanya harus punya kemampuan tetapi juga harus punya integritas dan memiliki etika yang terpuji. Rasanya deskripsi seperti di atas sangat mudah dipahami dan disepakati, cukup dengan memakai akal sehat yang sederhana.

Bila ada pejabat tertinggi atau tinggi negara melakukan tindakan kriminal lalu ditangkap pihak berwajib seharusnya menjadi peristiwa luar biasa atau paling tidak peristiwa tidak biasa karena jabatan tertinggi dan tinggi negara adalah jabatan prestisius dan mulia di sebuah negara. Bahkan seharusnya dan terjadi DI BEBERAPA NEGARA BERADA, petingginya yang MELANGGAR ETIKA saja langsung MENGUNDURKAN DIRI dari jabatannya. Di Korea Selatan dan Jepang misalnya, SERING TERJADI Perdana Menterinya BUNUH DIRI setelah diketahui masyarakat bahwa mereka melakukan tindakan tidak terpuji.

Mengapa di negara sebesar Indonesia ini ada pejabat tinggi wakil ketua DPR, orang nomor dua di lembaga terhormat diduga melakukan tindakan penyuapan lalu ditangkap KPK seperti kejadian biasa biasa saja? Apakah ini menunjukkan bahwa PERILAKU JAHAT dan KORUP para petingginya sudah dianggap biasa oleh masyarakat ? Bandingkan dengan dua peristiwa yang terjadi tidak berselang lama jaraknya. Yang satu berita penangkapan wakil ketua DPR oleh KPK dan PEMBAKARAN MIMBAR MASJID RAYA di kota Makassar.

Animo masyarakat yang lebih peduli pada kasus pembakaran mimbar masjid dari pada kasus penangkapan wakil ketua DPR oleh KPK. Bila ditarik ke belakang memang tidak bisa dipungkiri banyak pejabat baik pusat maupun daerah yang harus mendekam di rutan KPK. Sehingga seolah ada kesan di masyarakat bahwa pejabat dan anggota DPR ditangkap KPK bukanlah hal yang luar biasa.

Pembentukan KPK sejatinya adalah  pesan penting GERAKAN REFORMASI 1998, yakni pemberantasan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Korupsi telah ditetapkan dan disepakati sebagai kejahatan besar yang merugikan negara dan sebagai faktor penghambat kemajuan bangsa. Namun realitasnya menunjukkan peran KPK semakin hari diamati oleh para ahli bukan semakin meningkat.

Dengan kondisi KPK seperti itupun KPK masih bisa menangkap para KORUPTOR, pejabat tinggi pula. Apalagi bila KPK dipimpin oleh orang yang KREDIBEL, BERINTEGRITAS tinggi dan perannya terus diperkuat, bisa jadi akan semakin banyak lagi para PEJABAT JAHAT dan KORUP yang dapat ditangkap, pejabat tinggi dan pejabat daerah.

Korupsi sebagai kejahatan pasti bisa diberantas. Seperti kejahatan lain yang juga bisa diberantas. Peribahasa bangsa kita yang merupakan kearifan lokal menyatakan : “untuk menyapu halaman yang kotor diperlukan sapu yang bersih dan penyapu yang bisa dan mau menyapu dengan baik”. Analoginya dengan kondisi LAW ENFORCEMENT KORUPSI adalah perangkat hukum bisa jadi sudah cukup.

Yang diperlukan dengan urgen adalah penyapu yang mau dan bisa menyapu dengan baik, yakni KPK harus didukung dan didorong serta ditekan untuk DIPERKUAT dan WAJIB DIISI oleh orang orang PILIHAN BERINTEGRITAS TINGGI dari pimpinannya sampai staf-staf nya. Lagi-lagi sayang, faktanya masih jauh api dari panggang.

Jadilah bisa dipahami kalau masyarakat masih mengangggap peristiwa biasa-biasa saja ada pejabat tinggi nan mulia yang bernama wakil ketua DPR RI dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi. Kontradiksi, paradok tapi realitas. Kualitas pemimpin suatu komunitas biasanya memang mencerminkan kualitas komunitas secara umum. Apa boleh buat. Realitasnya MENYEDIHKAN dan MEMALUKAN. (BTL)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *