Friday, September 25, 2020
Home > News > Healt > Muslim Glows Gelar Kajian Online Kelas Pra Nikah Bersama Dokter

Muslim Glows Gelar Kajian Online Kelas Pra Nikah Bersama Dokter


Multa F | Banten-News | Health | Tangsel

Kesehatan reproduksi sangat penting bagi wanita. Karena begitu pentingnya, maka kita perlu mengetahui bagaimana cara menjaga dan merawatnya.

Lantas apa sajakah yang perlu kita lakukan agar reproduksi senantiasa dalam keadaan sehat. Untuk itu Muslim Glows, pada Sabtu (08/08/2020) malam, menggelar diskusi Kajian Online virtual zoom Kelas Pra Nikah yang membahas masalah reproduksi dengan menghadirkan dokter yang pakar dalam bidangnya yaitu Dr. Dewi Inong Irana Sp. KK yang menyampaikan materi tentang “Ternyata sebelum menikah, pasangan calon pengantin menikah sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang meliputi kesehatan reproduksi, paru-paru dan darah. Membuat MOU (Memorandum of Understanding) atau kesepakatan bersama sebelum menikah serta Sekufu dan cocok.

Menurut Dr. Inong, melakukan medical check up ini sangat penting bagi calon pasangan pengantin di zaman sekarang ini, karena menurutnya sekarang ini banyak sekali kasus-kasus yang memprihatinkan terjadi. Misal calon pengantin perempuannya sehat, tapi ternyata calon pengantin laki-lakinya adalah seorang Gay. Kasus yang lain adalah calon pengantin laki-laki nya perokok berat, hal ini dapat dilihat dari hasil rontgen paru-paru nya.

Dapat juga kita lihat dari tes darah, apakah calon pasangan HIV/AIDS atau tidak. Tidak usah ragu-ragu atau malu untuk melakukan hal tersebut, semuanya demi masa depan si kedua calon pengantin itu sendiri.

“Demi anak cucu mereka berdua nanti. Karena kasus demi kasus yang terjadi saat ini akan membuatku bergidik bulu roma kita, sudah sedemikian parahnya isi dunia saat ini. Sehingga kita harus hati-hati dalam memilih calon menantu. Tapi percayalah, saat ini 80% masih banyak laki-laki yang baik-baik, 20% nya sudah terkontaminasi,” ujar Dr. Inong berargumentasi.

Lanjut Dr. Inong, disarankan kedua calon pengantin untuk membuat MOU (Memorandum Of Understanding) atau  kesepakatan bersama sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. dr. Inong menceritakan bahwa sebelum memutuskan untuk menikah dengan suaminya, dirinya dulu membuat MOU dengan suaminya yang ditanda tangani mereka berdua dan ber materai hitam di atas putih. 

“Isi dari MOU tersebut adalah dirinya tidak mau di poligami, kenapa?, karena saya merasakan betul pedihnya, sakitnya jadi anak yang ayah ibunya cerai akibat poligami. Trauma itu begitu membekas dihati saya, sehingga dirinya berani mengambil sikap untuk membuat perjanjian hitam diatas putih dengan suaminya sebelum mereka menikah. Orang tua saya bercerai saat ia masih kecil. Saya melihat pertengkarang kedua orang tua di depan mata saya dan terjadi KDRT yang dilakukan oleh ayah terhadap ibu, karena ibu tidak mau dipoligami. Pengalaman buruk itu begitu membekas dan meninggalkan trauma pada hati saya yang sangat,” tutur Dr. Inong, hingga dirinya menolak untuk dipoligami.

Ditambahkan oleh Dr. Inong, suaminya mrngijinkan dirinya untuk berkiprah di masyarakat, berkarir dan mengamalkan ilmunya yang ia dapatkan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Dirinya bekerja di Rumah Sakit namun tetap berusaha menjadi ibu yang baik dan istri yang betul-betul paham tugasnya di rumah tangganya.

Meminta izin pada suaminya untuk mengajak Ibundanya tinggal bersama mereka di rumah mereka hingga akhir usia ibundanya. Dan ini diizinkan oleh calon suaminya dahulu.

“Alhamdulillah semua persyaratan tersebut disetujui oleh calon suami saya saat itu dan alhamdulillah pernikahan kami langgeng hingga sekarang,” terangnya.

“Menikah itu harus sekufu (selevel dan sederajat) dalam hal apa saja?, Kapasitas keilmuan, kecenderungan dalam beraktifitas, misalnya si wanita aktif berorganisasi, ya kalau bisa si laki-lakinya pun dapat memahami hal tersebut. Jangan sampai saat menikah nanti, si wanita ingin aktif berkiprah di masyarakat dengan ilmunya, tapi dilarang oleh suami.  Kalau bsa mempunyai hobi yang sama, misalnya sama-sama suka membaca buku, sama-sama suka diskusi walaupun ini tidak harus, kenapa?, karena banyak kejadian, suami tidak nyambung saat berdiskusi dengan istrinya karena istrinya tidak suka berdiskusi, pengennya nonton drama korea saja, akhirnya suami dekat dengan sekretarisnya dan terjadilah affair. Ini True Story loh,” tandasnya.

Jadi harus betul-betul kita mempertimbankan masalah ini. Masalah harta justru tidak dibicarakan, karena harta dapat dicari berdua, tapi kewajiban mencari nafkah adalah kewajiban laki-laki (suami). Perempuan kalau mau membantu monggo silahkan, tetapi bukan dia yang utama mencari nafkah. Bahkan tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya dengan didikan yang terbaik, bukan sebagai pencari nafkah.

“Dan apa sajakah yang harus kita lakukan agar kita dapat selalu sehat, awet muda dan bahagia ?, diantaranya adalah memakan buah kolang-Kaling yang diolah dengan Gula Aren, mengkonsumsi buah Pepaya dan juga jus Jambu Merah. Dan juga melakukan olah raga yang teratur minimal 30 menit per hari, dan bagi Perempuan yang sudah diatas usia Empat Puluh, aktifitas jalan kaki sudah cukup serta rajin berjemur di matahari pagi agar Tulang kita menjadi kuat,” pungkas Dr. Inong Irana. (MBC)

Admin
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close