Monday, September 27, 2021
Home > Views > Commentary > Latihan Perang Besar-Besaran Garuda Shield Antisipasi Serangan Dragon Shield ?

Latihan Perang Besar-Besaran Garuda Shield Antisipasi Serangan Dragon Shield ?


Banten-News | Commentary | Bandung

Oleh  : M. Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)

Latihan perang bersama besar-besaran antara Tentara Amerika Serikat dengan TNI AD dengan sandi “Garuda Shield” akan dilaksanakan tanggal 1-14 Agustus 2021 di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Tak bisa dipungkiri latihan perang bersama saat ini berkaitan dengan ketegangan global antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Khususnya klaim China soal Laut China Selatan.

Publik dalam negeri memandang latihan perang bersama ini ada hubungannya dengan menguatnya CENGKERAMAN RRC atas negara Indonesia baik program jalan sutera OBOR maupun dominasi ekonomi termasuk TKA asal China yang membanjir. TNI AD bermanuver di tengah hangatnya kondisi politik global dan nasional tersebut.

Secara formal “Garuda Shield” sebagaimana penjelasan KSAD Jenderal Andika Perkasa adalah kerjasama rutin tahunan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan personal TNI AD, namun sebagaimana penegasan pihak US Army kerjasama ini memberi bobot khusus pada tekad AS untuk mendukung kepentingan keamanan teman dan sekutu AS di kawasan Pasifik.

Commanding General of USARPAC General Charles A Flyn menyatakan “program ini seperti latihan multinasional Pasifik menjelajah ke wilayah negara lain”. Nampaknya Latihan bersama “Garuda Shield” kali ini agak istimewa bahkan menjadi Latihan Bersama terbesar dalam sejarah. Sebanyak 2.282 personal tentara Angkatan Darat AS akan terlibat.

Peningkatan ketegangan global yang berimbas pada ketegangan nasional berefek politik. Pemerintahan Jokowi yang terlalu dekat dengan RRC tentu  menjadi kurang nyaman.  Lalu, demi kebijakan politik luar negeri yang “bebas aktif” mungkinkah setelah ini akan diadakan Latihan Bersama “Garuda Shield” lain dengan Tentara China yang bisa saja  bersandi “Dragon Shield” ?

Jawabannya adalah sulit dan kemungkinan kecil untuk terjadi, dengan alasan :

Pertama, Tentara China tidak terbiasa “bersekutu” apalagi melalui Latihan Bersama. Hegemoninya senantiasa mengandalkan kekuatan sendiri. Berbeda dengan politik militer AS yang gemar keroyokan sejak dulu, karenanya  sebutan populer untuk ini adalah  tentara sekutu (allied army).

Kedua,  hegemoni China selalu berbasis ekonomi, sehingga unjuk kekuatan militer bersama dengan negara “sahabat” akan berpengaruh pada stabilitas penguasaan ekonomi dan bisnis. Menekankan pada kerjasama politik dan militer menakutkan pelaku bisnis China.

Ketiga, rakyat Indonesia tidak mudah menerima kehadiran Tentara China walau sekedar Latihan Bersama. Di samping trauma pada sejarah pemberontakan PKI yang dikendalikan RRC, juga masyarakat beragama khususnya umat Islam akan bereaksi keras menentang Latihan Bersama yang dipandang bagian dari penguatan penyebaran ideologi Komunis. Musuh agama.

Latihan Bersama US Army dengan TNI AD saat ini strategis dan dapat mempengaruhi istana. Mengevalusi persahabatan erat dengan RRC atau menyerah. Garuda Shield Agustus adalah todongan senjata  ke arah Istana. Berlebihankah ? Mungkin iya mungkin tidak–Maybe yes maybe no. (Foto & Article dari MBC-BTL)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *