Saturday, October 16, 2021
Home > News > Social Problems > Keluarga Miskin Siswa SMAN 6 Kota Tangsel Mengeluh Kesulitan Membuat Kartu KIP Dan KIP 

Keluarga Miskin Siswa SMAN 6 Kota Tangsel Mengeluh Kesulitan Membuat Kartu KIP Dan KIP 


Banten-News | Social Problems | Tangerang Selatan

Pasangan suami isteri, Gantina (35) dan Reni Jaya (36) keluarga kurang mampu yang anaknya bersekolah di SMAN 6 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyampaikan keluhannya terkait SULITNYA mengurus proses pembuatan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan juga Kartu Program Indonesia Pintar (PIP) sehingga menyebabkan dirinya selaku orang tua siswa tidak dapat membeli buku Pelajaran untuk menunjang keperluan anaknya belajar di sekolah.

Hal itu disampaiakan Gantina dan juga Reni Jaya kepada beberapa awak media saat dirinya didapati sedang murung di sudut warung kopi dekat Kantor Cabang Dinas (KCD) SMA perwakilan Banten di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dikawasan Perumahan Villa Melati Mas, Kelurahan Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan pada Rabu  (1/9/2021) siang.

Reni bersama Gantina pun mulai bercerita seraya menunjukkan beberapa lembaran dokumen yang dibawanya. Keduanya SEOLAH PASRAH, lantaran tidak kunjung ada kepastian soal pembuatan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan juga Program Indonesia Pintar (PIP) bagi putranya MF (16) yang bersekolah di SMAN 6 Kota Tangerang Selatan.

“Kita capek pak, sudah ngurus ke sana-sini tetap sampai sekarang belum dapat kepastiannya itu seperti apa pembuatan kartu KIP dan PIP untuk anak kami,” kata pasangan suami-istri tersebut.

Didampingi sang suami, Reni pun memberanikan diri menjelaskan kepada para awak media kesulitan apa yang dirasakannya membuat kartu KIP dan PIP untuk kebutuhan anaknya tersebut. Ibu dari 3 anak itu mengatakan, sejak awal anaknya MF masuk sekolah di SMAN 6 Kota Tangsel pada tahun 2020 lalu, dirinya telah mencoba mengurus pembuatan kartu KIP dan PIP. Bahkan salah satu guru di SMAN 6 Kota Tangsel pun ikut menawarkan bantuan dalam pendataan.

“Waktu itu ada guru yang bilang ke saya, katanya mau bantu. Ya sudah saya serahin data dan persyaratannya. Cuman habis itu, belum ada hasilnya sampai sekarang. Saya sudah hubungi guru tersebut dan menanyakan prosesnya sudah sampai mana, tapi katanya belum ada nama anak saya dalam daftar,” tuturnya.

Karena tidak ada kabar kepastian, Reni dan suami memutuskan untuk mengurus langsung pembuatan kartu KIP dan PIP tersebut. Dan setelah berkordinasi dengan guru sekolah sebelumnya, dia mulai menempuh segala prosedur yang harus dilaluinya.

“Karena saya urus udah lama, dari anak saya pertama masuk kelas 1 sampai sekarang sudah kelas 2. Ya sudah akhirnya saya minta surat keterangan dari sekolah. Setelah itu saya jalan ngurus sendiri, sudah ke Dinas Sosial juga. Kemarin Selasa, saya juga sudah ke KCD, tapi dibilang sama pegawainya mereka enggak ngurus pembuatan KIP dan PIP,” bebernya.

Tak puas mendapat jawaban itu, Reni dan suami kembali mendatangi KCD hari ini. Lagi-lagi hasilnya sama, pegawai yang ditemui menjelaskan bahwa mereka tidak berwenang memproses pembuatan kartu  KIP dan PIP langsung.

“Tadi ke situ lagi (KCD), dan jawabannya ya sama. Jadi pegawainya bilang, registrasinya harus melalui operator sekolah, nanti dari sekolah yang kirim datanya ke kita. Jadi disuruh balik lagi ke sekolah,” katanya.

Gantina dan Reni merupakan keluarga kecil yang kondisi ekonominya tak sebaik wali murid kebanyakan di SMAN 6 Kota Tangsel. Penghasilan Gantina sebagai juru parkir, tidak bisa menopang berbagai kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk keperluan lain di luar itu.

“Dulu narik angkot, tapi karena sepi, enggak ketutup setorannya akhirnya sekarang jadi tukang parkir,” sambung dia.

Meski berasal dari keluarga tak mampu, Reni dan Gantina merasa bangga karena putra mereka bisa mengenyam pendidikan di SMAN 6 Kota Tangsel melalui jalur afirmasi. Untuk itulah keduanya berharap banyak dari kartu KIP dan PIP agar meringankan beban biaya kebutuhan sekolah anaknya.

“Dari sekolah kan disuruh beli juga buat buku paket pendamping, dulu kami beli Rp 900 ribuan. Kalau kemarin ini kita disuruh beli buku harganya Rp 510 ribu, belinya di koperasi sekolah, kita bingung uangnya belum ada. Kalau udah ada itu kartu KIP-PIP kan agak ringan jadinya,” tandasnya.

Sementara itu, Humas SMAN 6 Kota Tangsel, Arie Yunitarie, memastikan pihaknya akan membantu segala proses pembuatan kartu KIP ataupun PIP bagi siswanya yang tidak mampu.

“Nanti kita cek dulu ya pak. Pasti sekolah ada alasan. Kita nggak pernah nggak bantu, apalagi untuk masalah KIP dan PIP dan segala macamnya, kita pasti bantu. Kita upayakan, apalagi tidak mampu,” ucapnya Arie Yunitarie.

Dia menjelaskan, pada tahun lalu data siswa yang ingin membuat kartu KIP dan PIP telah diajukan. Namun dari jumlah itu tidak seluruhnya bisa disetujui. “Memang biasanya tidak di ACC seratus persen, selalu berbeda setiap tahunnya. Untuk PIP tahun ini memamg belum bisa diajukan, karena data belum lengkap,” terangnya.

Arie pun meminta agar orang tua siswa mendatangi sekolah esok hari guna pengurusan KIP dan PIP. “Nanti kalau misalnya anak ini mau mengkomunikasikan lagi, coba biar datang ke sekolah. Kalau di sekolah bisa menemui BK, bisa menemui kesiswaan, nanti kami fasilitasi,” pungkasnya.(BTL)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *