Saturday, October 16, 2021
Home > Views > Commentary > Jangan Melupakan Jasmerah Dan Jasputih Dan Jangan Sekali-kali Berusaha Memutihkan Sejarah

Jangan Melupakan Jasmerah Dan Jasputih Dan Jangan Sekali-kali Berusaha Memutihkan Sejarah


Banten-News | Commentary | Tangsel

Oleh  : Dr. H. Nurudin Hery Kustanto, MM
(Pegiat Sosial Keagamaan dan Politik di BSD)

Apa arti sejarah? Sekedar catatan masa lalu? Hanya heroik bagi pelaku dan pengikutnya? Kenapa selalu ada pro kontra terhadap sejarah? Sejarah tergantung versi pemenang? Lalu adakah kebenaran sejarah?.
Buat penjajah Belanda Pangeran Diponegoro adalah musuh, pemberontak, teroris atau entah apalagi sebutannya. Bagi bangsa Indonesia beliau adalah pahlawan nasional, pejuang bangsa. 180 derajat berbalik bedanya.

Hanya karena enggel yang berbeda. Yang satu versi penjajah yang satu versi pejuang. Dua duanya pastinya ditulis oleh ahli sajarah versi masing-masing negara. Mana yang benar? Karena Indonesia sudah merdeka dari penjajahan Belanda maka kita semua se negara ini berani mengklaim bahwa pangeran Diponegoro adalah pejuang pahlawan bangsa.
Bayangkan waktu penjajahan Belanda masih berlangsung, kira kira adakah anak bangsa Indonesia ini yang justru ikut membantu Belanda memerangi Pangeran Diponegoro karena dianggap pemberontak, teroris, pengacau keamanan dan ketertiban? Jawabannya bukan hanya ada tapi buuuanyak.

Sepertinya memang dalam segala jaman akan selalu ada kelompok oportunis pragmatis atau bahasa kasarnya para pecundang dan pengkhianat yang selalu berpihak kepada penguasa jahat tak peduli penjajah sekalipun dengan berbagai dalih dan alasan. Dan sedihnya tidak hanya mendukung rejim jahat tapi juga tega menghancurkan menghabisi saudaranya sendiri demi kepentingan pihak lain. Bukankah karena pengkhianatan-pengkhianatan sesama anak bangsa ini yang akhirnya Pangeran Diponegoro dapat ditangkap, diasingkan dan dikalahkan.

Apa sih sebetulnya definis sejarah?
J. Bank dalam buku Ilmu Sejarah dan Historiografi; Arah dan Perspektif (1985) menyatakan sejarah merupakan semua kejadian atau peristiwa masa lalu, yang bertujuan untuk memahami perilaku masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Sejarawan asal Amerika, Robin Winks berpendapat, sejarah merupakan pembelajaran tentang manusia dalam kehidupan masyarakat.
Sejarawan Jerman, Leopold von Ranke mengatakan, sejarah adalah peristiwa yang terjadi.

Ahli sejarah dari Indonesia yang terkenal, Sartono Kartodirjo, mendefinisikan sejarah lebih detail lagi. Menurutnya, sejarah adalah gambaran masa lalu manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap. Sejarah di dalamnya meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberikan pengertian pemahaman tentang apa yang telah berlalu.

Penulis ingin menggarisbawahi kata sejarah adalah urutan masa dengan tafsiran dan penjelasan oleh Sartono di atas. Dua kata tafsir dan penjelasan tersebut mengisyaratkan potensi subyektifitas dari setiap penafsir atau penjelas sejarah. Ahli sejarah dari versi penjajah memiliki subyektifitas terhadap yang melawan penjajah. Begitu pula ahli sajarah dari kelompok pejuang juga memiliki subyektifitas terhadap yang dianggap penjajah. Dimana lalu kebenaran sejarah? Ataukah cukup dikatakan kebenaran sejarah tergantung di posisi mana penafsir sejarah berada?

Sejarah G 30 S PKI

Sejak reformasi 1998 bergulir dengan tokoh lokomotifnya Prof Dr HM Amien Rais, MA, publik mulai berani bersuara tentang berbagai hal secara terbuka. Era demokratisasi lahir. Bebas bicara apa saja. Tak terkecuali peristiwa tragis 30 september 1965. Orde lama yang berkuasa 20 tahun (1945 sd 1965) diganti dengan era orde baru selama 30 tahun lebih berkuasa. Presiden Suharto yang sangat berkuasa itu terpaksa berhenti sendiri menghadapi tekanan mahasiswa dan masyarakat.

Kredo orba sebagai pengganti orde lama yang dianggap berbau komunis selama 30 tahun lebih ditanamkan melalui berbagai program penataran P4. Kini reformasi sudah berjalan 23 tahun dan partai yang berkuasa adalah PDIP yang notabene tokohnya adalah anak presiden yang dianggap orde lama oleh orde baru.

Jadi wajar bila saat ini sebagai pendukung mahzab ideologi orde lama, PDIP  berusaha mengangung angungkan peran peran besar tokoh tokoh orde lama dan menghilangkan stigma negatifnya. Dan tidak bisa dielakkan sesuai hukum keseimbangan bila yang satu ditinggikan maka yang lain akan direndahkan. Orde lama ditinggikan otomatis orde baru direndahkan. Baru baru ini anak Rachmawati Soekarno berani terang-terangan mengatakan bahwa kakeknya Presiden Sukarno meninggalnya karena dibunuh secara pelan pelan di wisma Yaso (detik.com, 1 okt 2021).

Di sisi lain sebagian besar TNI Angkatan Darat dan Umat Islam yang sunguh-sungguh bertarung hidup mati melawan pembrontakan PKI pada tahun 1965 dan sebelumnya tidak akan diam dan akan melawan setiap gerakan yang akan memunculkan lagi PKI yang sudah ditetapkan sebagai partai terlarang. Bukti bukti keganasan dan kekejaman pengikut PKI banyak sekali dijumpai di berbagai daerah yang puncaknya adalah tragedi di lubang buaya.

Lagi lagi mana sejarah yang benar? Ahli sejarah mana yang bisa dipercaya 100%? Bahkan media beritapun begitu, cenderung mengikuti afiliasinya masing-masing. Media yang pro PDIP dkk akan cenderung menuduh bahwa gerakan G 30 S PKI adalah skenario yang berbuntut kudeta oleh rejim orba terhadap orde lama.

Sebaliknya pihak yang anti orde lama karena orde lama dianggap terlalu ke kiri memberi peluang besar kepada komunis yang sudah terbukti jelas jelas melakukan pembunuhan dengan kejam kepada petinggi TNI dan para ulama pasti akan terus melawan setiap isu isu yang ingin memberi ruang membangkitkan kembali bibit- bibit ajaran PKI di negeri tercinta ini.

Adakah ahli sejarah independen?
Jawaban diplomatisnya adalah seharusnya ada. Para akademisi dan peneliti sejarah di kampus kampus terkenal negeri ini yang sehari hari memang berkecimpung dalam kajian sejarah seyogyanya bersuara lantang memberikan pendapat atau hasil penelitiannya dengan seobyektif mungkin.

Tapi pertanyaannya saat ini. Masih adakah akademisi yang kredibel yang berani bersuara berbeda dengan penguasa? Sementara saksi-saksi hidup sejarah banyak yang sudah meninggal, hal ini pasti akan mengakibatkan semakin sedikitnya informasi otentik tentang fakta sejarah kelam pembrontakan G 30 S PKI.

Distorsi sejarah pelan tapi pasti akan terjadi seiring generasi berganti. Generasi milenial (Gen Y) dan Z yang dari sekolahnyapun tak wajib mengikuti penataran P4 dapat dipastikan akan memiliki persepsi tersendiri tentang sejarah G 30 S PKI. Persepsi mereka akan banyak tergantung dari sumber media yang diikuti disukai dan juga lingkungan yang membesarkannya. Above all..dari sumber informasi versi pemerintah yang berkuasa.

Begitulah sampai nanti generasi kita berganti, kita akan selalu disuguhi pro kontra peristiwa G 30 S PKI secara bergiliran setiap tahun. Masing masing sudah siap dengan amunisi argumentasi yang akan digunakan pada saatnya baik menang atau kalah.

To learn a history is important but to learn from history is more important.
Belajar sejarah itu penting tapi yang lebih penting adalah BELAJAR DARI SEJARAH.
Allahu A’lam bisshowab. (BTL)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *