Monday, October 26, 2020
Home > News > Public Service > Gubenur Banten Dukung Sikap Tegas Tamgerang Zaki

Gubenur Banten Dukung Sikap Tegas Tamgerang Zaki


Banten-News | Public Service | Tangerang

Gubernur Banten Wahidin Halim mendukung langkah Bupati Tangerang A Zaki Is­kandar bersikap tegas terhadap para sopir truk yang melanggar Perbup nomor 47 tahun 2018 tentang pem­batasan jam operasional kendaraan tambang.

Wahidin menyatakan truk yang melebihi tonase merugikan negara karena merusak jalan.

“Sudah seharusnya pak Bupati bersikap tegas. Kalau tidak jalan Kabupaten Tangerang dan jalan provinsi bisa hancur. Itu kan tonasenya berlebihan. Yang sekarang di­lakukan Bupati Tangerang sudah betul,”ungkap Gubernur Banten Wa­hidin Halim seusai melakukan rapat koordinasi di Puspemkab Tangerang, Tigaraksa, Kamis, 16 Januari 2020.

Bupati Tangerang Zaki menyatakan penegakan terhadap Perbup Tangerang nomor 47 tahun 2018 dilaku­kan bukan semata – mata untuk mencegah kehancuran jalan. Perbup, kata Zaki, diterbitkan untuk memberikan perlindun­gan akan keselamatan masyara­kat Kabupaten Tangerang.

“Jadi langkah Pemkab Tangerang menegakkan Perbup 47 mendapatkan dukungan dari Gubernur Banten,” imbuh Zaki di tempat yang sama, kemarin.

Sebelumnya, Zaki men­gatakan akan melakukan re­visi terhadap Perbup Tangerang nomor 47 tahun 2018. Revisi dilakukan agar Perbup dapat memuat sanksi yang lebih te­gas kepada para sopir truk yang melanggar jam operasional. Saat ini, pemberian sanksi terhadap pelanggar Perbup dilakukan oleh pihak kepolisian.

Pemkab Tangerang, kata Zaki, akan melakukan koordinasi dengan Polres Metro Tangerang, Polres Kota Tangerang dan Polres Tangsel. Hal itu dilaku­kan karena wilayah hukum di Kabupaten Tangerang terbagi ke dalam tiga Polres tersebut.

Pelanggaran terhadap Perbup nomor 47 tahun 2018 memang kerap kali terjadi. Rabu (15/1) lalu, ratusan santri di Kecamatan Teluknaga melakukan aksi unjuk rasa meminta Pemkab Tangerang menegakkan peraturan tersebut. Protes dilayangkan setelah dua orang santriwati mengalami ke­celakaan lalu lintas yang melibat­kan truk tambang.

Dua santriwati yang men­galami kecelakaan bernama In­dah Nurhayati dan Suci Melati. Keduanya terjatuh saat meng­endarai sepeda motor di Jalan Marsekal Suryadharma, Kelu­rahan Selapajang Jaya tepatnya di depan Gedung ex BNP2TKI, Neglasari, Kota Tangerang, Se­lasa (14/1) lalu. Truk tambang kemudian melindas kaki salah satu dari keduanya.

Suci Melati mengalami luka yang paling parah. Remaja 17 tahun ini harus kehilangan 3 jari kakinya usai terlindas truk. Sementara, temannya Indah Nurhayati hanya mengalami luka ringan.

Tim Dokter RSUD Kabupaten Tangerang terpaksa mengamputasi 3 jari kakinya lantaran kondisinya sudah re­muk. Beruntung, pergelangan kakinya masih terselamatkan walau dipasang pen.

Ibu Suci, Wati menceritakan kronologi anaknya menjadi korban truk tambang. Kala itu sang anak yang menimba ilmu di salah satu pesantren di Kabu­paten Tangerang tengah berk­endara menuju rumah. Naas, saat itu jalanan licin sehingga kendaraannya tergelincir. Tak lama keduanya jatuh, datang mobil truk tanpa muatan lang­sung melindas kaki Suci.

“Anak saya saat jatuh dari motor sudah angkat tangan maksudnya biar berhenti. Tapi truknya tetap jalan terus,” kata Wati.

Wanita berusia 42 tahun itu menampik anaknya yang berk­endara saat itu menyalip. “Ke­jadian sebenarnya tidak begitu. Bohong itu, anak saja sudah jatuh, baru mobil melindas,” tambah dia.

Wati mengaku bingung tat­kala harus membayar semua biaya perawatan anaknya. Karena pendapatan yang pas – pasan dari hasil berdagang sembako. Beruntung, pihak pe­rusahaan bertanggung–jawab atas musibah yang dialami Suci. Kini, Suci mendapat perawatan intensif di RSUD Kabupaten Tangerang. Dia dirawat di ruan­gan VIP.

“Semuanya ditanggung sama perusahaan sampai sembuh. Kata mereka kalau butuh apa–apa untuk pengobatan Suci tel­pon saja,”kata Wati.

Hari ini (17/1), Suci sudah diperbolehkan pulang oleh tim Dokter RSUD Kabupaten Tangerang. Namun, dia harus memakai tongkat untuk peny­embuhannya.

“Gak boleh pake kursi roda. Biar melatih dia jalan kata Dok­ter,” ujarnya.

Wati memberikan seman­gat kepada anaknya agar tidak minder mengalamai cacat di kakinya. Awalnya Suci sangat sedih hingga tak mau makan. Namun setelah diberi penger­tian oleh sang ibu akhirnya Suci menerima musibah ini.

“Sekarang dia makannya ban­yak,” kata Wati.

Wati mengatakan, Suci meru­pakan sosok yang periang dan terbilang cerdas di pesantren­nya. Anaknya ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Namun, Wati mengaku tak mampu untuk membiayainya.

“Saya bilang kerja saja dulu, baru kuliah. Saya kadang sedih. Saya nyari uang sendiri. Bapak­nya ga kerja,”ujar Wati sembari meneteskan air mata.

Wati berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang mampu bersikap tegas terhadap aktivi­tas truk tambang karena sudah sangat meresahkan. Dia ingin Perhub nomor 47 tahun 2018 tentang pembatasan jam op­erasional kendaraan tambang ditegakkan. Sehingga, kejadian seperti tak terulang kembali.

“Masih banyak truk yang lewat padahal sudah dilarang. Saya ngeri. Saya bilang sama anak saya hati – hati, tapi namanya musibah, anak saya jadi korban­nya,” harap Wati. (satelite. id)

Admin
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close