Tuesday, April 16, 2024
Home > Life > Art & Culture > Catatan Hari Ini, Jumat, 15 September 2022, Lepas Magrib, Tentang Gadis Xilik Itu

Catatan Hari Ini, Jumat, 15 September 2022, Lepas Magrib, Tentang Gadis Xilik Itu


Banten-News | Commentary | Jakarta

Oleh : Suryadi, Pemerhati Budaya

“Assalamualaikum…”
(salam itu antara terdengar dan tidak dari dalam rumah).
SERAYA menyahutinya dengan “Waalaikumsalam….”, sambil menduga-duga bahwa itu suara anak kecil, aku bergegas menuju pintu depan. Ternyata benar, di hadapanku telah berdiri gadis kecil. Kuduga usianya tak lebih dari 8 tahun. Ia mengenakan baju panjang dan jilbab warna biru muda. Ku sapa:
+ Ada apa Nak?
– (masih antara terdengar dan tidak, samar-samar, ia menjawab) Mau beli…nggak?
+ Apa Nak (kuulangi lagi)?
– (agak jelas suaranya, meski terasa masih lemah) Mau beli pempek nggak, Pak?
+ Refleks saja kujawab, enggak Nak (dari logatnya aku pastikan dia bukan berasal dari Palembang, sedangkan aku lahir dan sebagian usiaku kulewati di daerah Sumsel itu. Pempek adalah penganan khas Palembang)

GADIS cilik itu pun pergi menjajakkan jualannya ke lain rumah. Aku masuk kembali ke dalam. Tetapi, sesaat kemudian ada rasa penyesalan mendalam. Dalam hatiku pasti gadis cilik itu bersekolah, meski harus jualan pempek jelas menandakan dia anak dari keluarga miskin. Buru-buru aku keluar lagi dan memanggil-panggilnya. Ia mendekat. Tampak ia menenteng tas kain. Rupanya, ia membawa pempek jualannya dengan tas kain itu.

DIALOG kecil pun terjadi:
+ Tinggal di mana? Kamu sekolah gk?
– Di Citayam Pak. Sekolah, kelas 2.
+ Ibu mu?
– Jualan pempek di “atas” sana (sambil menunjuk ke arah barat).
+ Ayahmu? Kamu berapa bersaudara?
– Ayah pisah dari Ibu, Pak. Saya empat bersaudara 2 kakak dan 1 adik (suaranya lirih sekali, dan tidak dibuat-buat).
+ O iya Nak, saya tidak mau membeli pempek jualan mu (Dari belakang ku, seseorang menyorongkan sesuatu kepada si gadis cilik itu.
Agaknya uang kertas dilipat kecil-kecil).

KEMUDIAN, ku lepas gadis kecil itu pergi setelah ia pamit sembari menggenggam pemberian seseorang tadi.

Setelah si gadia cilik pergi, aku merasa sangat menyesal karena tak mampu memberinya uang lebih banyak. Seseorang tadi, ternyata benar telah memberinya uang. Namun, aku kecewa lantaran aku sendiri sedang tak mampu memberinya uang lebih banyak lagi atau setidaknya sesuatu yang lebih bermanfaat untuknya.

SUNGGUH menyesal. Paling sedih ketika tak mampu memberi apa-apa kepada sesama yang betul-betul membutuhkan dan memang patut menerima nya, sementara diri ini masih sehat dan kuat untuk bekerja.

SEMOGA gadis cilik itu sehat dan tetap bisa bersekolah, meski setiap hari harus berjalan kaki berkilo meter sambil berjualan pempek untuk membantu Ibunya yang “single parent” mencari nafkah.

YA Allah ya Rabb, selamatkanlah anak itu dan anak-anak yang lain yang bernasib serupa. Sehatkan dan cerdaskan mereka, angkatlah mereka dari lembah kepapaan, ya Rabb. Rasanya, belum pantas ia menanggung beban seberat itu.

Ya Allah ya Rabb Kau Maha Rahman dan Maha Rahim bagi hidup dan kehidupan ini.

Salam.
🙏🙏🙏

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *