Friday, June 18, 2021
Home > News > Crime & Law > Bedeng Liar Meresahkan & Mengancam Kesehatan Warga Perumahan Puri Madani II, Pondok Cabe Ilir

Bedeng Liar Meresahkan & Mengancam Kesehatan Warga Perumahan Puri Madani II, Pondok Cabe Ilir


Caption : Bedeng liar menjamur di dalam permukiman warga di Jalan Geriya Mulatama, Perumahan Puri Madani II, RT 2/12, Kelurahan Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel). Keberadaannya semakin meresahkan warga dan membutuhkan perhatian dan ketegasan pemerintah kota Tangerang Selatan.

Banten-News | Crime & Law | Tangerang Selatan

Tangerang Selatan, 27 Mei 2021 – Sejumlah bedeng liar menjamur di permukiman lingkungan RT 01, dan 02, RW 12 Perumahan Puri Madani 2, Jalan Griya Mulatama, Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sehingga menyebabkan keresahan warga setempat. Ketua RT 02/12 Perumahan Puri Madani 2, Isran Hasan mengaku lingkungannya menjadi rusak dan tercemar sehingga warga merasa perlu memprotes karena merasa terganggu.

Bedeng liar yang berdiri di lahan kosong hampir setengah lapangan bola ini, pada awalnya  dijadikan tempat memutilasi kendaraan bus. Kemudian, bermunculan bedeng lainnya dan bentuknya sudah menjadi bangunan semi permanen untuk jual beli dan reparasi motor tua. Keberadaannya membuat warga resah dan terganggu. Pasalnya, sudah hampir satu setengah tahun lamanya menggangu kenyamanan warga. Kondisinya pun semakin terlihat kumuh, mengotori lingkungan, dan mencemarkan udara yang dapat mengancam kesehatan warga.

“Awal kronologisnya pada Juni 2019, bedeng pertama yang muncul dijadikan penampungan bus-bus besar lalu dimutilasi. Kami merasa kecolongan karena limbah mutilasi kerangka bus sudah mengotori lingkungan. Tidak jarang mereka membakar ban dan tempat duduk bekas sehingga mengganggu pernafasan dan  kesehatan warga. Mesin-mesin yang mereka gunakan juga sangat ribut dan bising. Ini sudah mengganggu ketenangan warga. Kemudian, ketika ada tamu dari warga yang berkunjung bisa menilai lingkungan Puri Madani 2 terlihat kumuh. Bayangkan, di permukiman warga berserakan ban bekas, kursi bekas, oli, karet, serbuk- serbuk dan lain sebagainya yang mencemari lingkungan. Tempat tersebut juga kerap didatangi sejumlah orang yang tidak dikenal oleh pengurus RT. Mereka mengundang atau mendatangkan orang tanpa laporan ke RT dan menimbulkan kerumunan,” keluh Isran.

Sebulan setelah berdirinya bedeng pertama, pengurus RT melakukan komplain ke pemilik bedeng agar menghentikan aktivitas. “Mereka akhirnya datang pada kami setelah kami berikan surat teguran hingga 3 kali dan berjanji akan berhenti menggunakan lahan untuk memutilasi bus-bus.Tetapi, kenyataannya mereka melanggar janjinya dan masih beraktivitas bahkan bedeng lain pun bermunculan,” sebut Isran.

Menyurati Pejabat Terkait

Warga sudah melayangkan protes dan aduan ke lurah, camat, hingga walikota Tangsel. Namun, langkah tersebut terbilang nihil atau belum ada respon dari pemerintah setempat sebagaimana diharapkan warga.

“Belum ada yang turun tangan menyelesaikan masalah warga ini. Kami hanya mendapat tanda terima bahwa surat pengaduan telah diterima. Kami sangat berharap agar Pemerintah Kota Tangsel dapat mengambil tindakan tegas terkait sejumlah bangunan liar dan aktivitasnya,” tambahnya.

Isran pun yakin aktivitas bedeng sudah melanggar Amdal karena tidak ada izin persetujuan ke warga dan limbahnya merusak lingkungan. Itu sebabnya, ia sangat berharap  pemerintah kota Tangsel merespon keluhan warga. ”Kami mau tanah di lingkungan perumahan Puri Madani 2 tidak dimanfaatkan untuk usaha liar, kegiatan yang merusak lingkungan, dan mengganggu ketentraman warga. Sebab, peruntukannya memang bukan untuk usaha,” tegasnya.

Protes Warga Puri Madani 2

Keresahan sangat dirasakan M. Kurniawan (50). Pasalnya, lokasi kediamannya tidak jauh dari sejumlah bangunan liar itu. “Bedeng-bedeng liar sangat mengganggu hidup kami. Mesin pemotong itu suaranya sangat berisik. Bayangkan, bus-bus yang begitu besar saja suaranya sudah sangat berisik. Apalagi, saat dipreteli dengan mesin. Kemudian, kadang saat malam, mereka membakar sisa-sisa ban dan jok. Tentunya, asap dan bau yang ditimbulkan menggangggu kesehatan kami. Sisa sampah juga membuat tempat itu jadi terlihat makin kotor,” kata Kurniawan.

Protes juga datang dari warga lain, Ineke (42). Katanya, dulu dia sering bermain badminton di sekitar area tersebut. Tetapi, bedeng-bedeng tersebut sering membakar sampah sehingga tempat yang tadinya biasa ia manfaatkan untuk berolahraga menjadi tidak nyaman dan berbau. Ia pun mengeluhkan kesan kumuh yang ditimbulkan usaha tersebut. “Pagi-pagi udara sudah tercemar oleh pembakaran sampah dari bedeng. Saya pun sampai dikira tinggal di tempat kumuh saat dikunjungi kerabat karena begitu masuk gerbang, pemandangan yang terlihat adalah bangkai bus dan bangunan berisi motor tua.  Rasa tidak nyaman juga terasa saat lewat di sekitar bedeng. Sebab, sering tampak sejumlah angsa dari tempat itu yang sering berkeliaran di jalanan umum. Ini tentu membuat warga takut untuk lewat. Belum lagi sering memutar musik dengan sangat kencang hingga mengganggu ketenangan kami,” sebutnya.

Irsan dan warga Puri Madani 2 berharap kondisi yang mereka alami segera dapat terselesaikan oleh pemkot Tangsel karena jika dibiarkan maka lokasi tersebut akan semakin kumuh dan dikhawatirkan akan berkembang bangunan liar lainnya dan semakin banyak orang asing bukan warga setempat yang akan berdiam di tempat tersebut. (Foto & Article dari Hms-Bobby)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close