Saturday, July 24, 2021
Home > News > Crime & Law > Anak-Anak Suku Baduy Rawan Gizi Buruk dan Mulai Terbiasa Konsumsi Makanan Tinggi GGL

Anak-Anak Suku Baduy Rawan Gizi Buruk dan Mulai Terbiasa Konsumsi Makanan Tinggi GGL


Banten-News | Lifestyle | Lebak

Berperawakan ramping dan jarang terlihat gemuk, kuat dan jarang terlihat sakit, demikianlah gambaran umum suku Baduy dituliskan Faisal Anwar dan Hadi Riyadi yang terangkum dalam Jurnal Gizi dan Pangan IPB berjudul Status Gizi dan Status Kesehatan Suku Baduy. Bahkan, hingga awal tahun 2021, setahun pandemi, tidak ada catatan kasus COVID-19, baik di Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Padahal, kedua kawasan ini merupakan destinasi wisata yang tetap ramai dikunjungi wisatawan di masa pandemi.

Hal ini sungguh mencengangkan. Mungkin sudah ada yang terkena, tetapi tidak bergejala atau hanya ringan saja, karena imunitas mereka terbilang baik. Maka tidak heran bila banyak yang mengatakan masyarakat Baduy adalah orang-orang dengan tubuh yang sehat. Namun, apakah kondisi tersebut juga menggambarkan kesehatan anak-anak? Faktanya, sepanjang 2020, terdapat 11 balita dengan gizi buruk. Hal ini menunjukkan status kesehatan anak-anak masyarakat Baduy masih perlu diperhatikan.

Adalah Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS), pada awal Juni 2021 berkesempatan melakukan penelusuran ke sejumlah desa di kawasan Baduy. Terdapat 2 desa di Baduy Luar yaitu Ciboleger yang juga merupakan pintu masuk wisatawan ke Baduy serta Ciemes, kampung terdekat dari pintu masuk jalur Nanggerang yang menjadi sasaran penelusuran dan edukasi gizi. Sementara, untuk Baduy Dalam, yang dituju adalah kampung Cibeo yang juga kerap menjadi tujuan wisatawan.

Di Ciboleger, kami melihat rutinitas pagi beberapa keluarga. Ibu menyiapkan sarapan, ubi, singkong, pisang goreng dengan teh dan anak-anak mulai dari balita hingga usia sekolah minum susu atau sereal instan. Nah ini yang jadi perhatian kami, susu yang dikonsumsi anak adalah susu kental manis atau yang biasa mereka sebut kaleng, dan juga minuman instan lainnya seperti sereal kemasan, dan mereka anggap sudah terpenuhi gizinya, jelas R. Marnie, ketua bidang advokasi KOPMAS yang rutin melakukan edukasi bagi masyarakat Baduy.

Pemandangan serupa pun ditemui di perkampungan lainnya, seperti Ciemes dan Cibeo. Bahkan di kedua kampung ini, susu kaleng sudah menjadi minuman anak bahkan sejak masih di periode ASI. Karena kan ada tukang dagang yang bawa masuk, katanya susu buat anak. Juga bisa beli di warung-warung di Ciboleger kalau lagi keluar, ujar salah satu ibu warga Baduy dalam yang anaknya telah mengkonsumsi kental manis sejak masih bayi.

Disampaikan Marnie, beberapa tahun terakhir, ia mengamati telah terjadi banyak perubahan baik di Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Secara nilai-nilai yang dianut, memang masih terjaga hingga saat ini. Masyarakat Baduy masih berpegang pada pikukuh adat, ini tidak banyak komunitas adat yang bisa mempertahankan. Namun memang, kita tidak dapat pungkiri pengaruh teknologi, bagaimanapun tidak kita hindari, beber Marni.

Marni menceritakan, Baduy adalah masyarakat yang identik dengan hidup tanpa teknologi. Bahkan hingga saat ini, mereka masih bertahan tanpa listrik. Namun perubahan yang terlihat oleh Marnie adalah keberadaan televisi, gadget dan peranan media sosial dalam kehidupan.

Betul di dalam rumah masyarakat Baduy mereka tidak memiliki TV dan handphone. Tapi pada saat mereka keluar, mereka menonton TV dan menggunakan sosial media. Masyarakat Kedu Ketug yang sangat dekat dengan Ciboleger, sekarang sudah terbiasa menonton TV di malam hari. Mereka menonton di rumah-rumah warga di luar perkampungan Baduy, jelas Marni.

Hal inilah yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat terutama anak-anak ikut berubah. Anak-anak suku Baduy sekarang terbiasa mengkonsumsi pangan olahan, yang pastinya tinggi kandungan gula garam lemak. Mereka melihat iklan, lalu menemukan produk tersebut dijual di warung-warung yang mereka juga gampang akses, dan akhirnya menjadi konsumsi wajib mereka, imbuh Marni.

Lebih lanjut, ia tidak menyalahkan keberadaan televisi, gadget dan warung-warung yang mnyediakan panganan tersebut. Hanya saja, ia cukup menyesalkan bahwa hal itu tidak diiringi dengan edukasi panganan yang diberikan untuk masyarakat Baduy. Sebagai contoh, dengan ditemukannya konsumsi kental manis yang tinggi oleh anak-anak Baduy, sementara orang tua tidak mengetahui kandungan dari kental manis.

Ada memang bidan atau puskesmas yang rutin mengontrol kesehatan masyarakat, hanya saja yang masih kurang adalah edukasi soal gizi. Mereka baru sebatas memeriksa kesehatan, namun belum menyampaikan pengetahuan tentang gizi. Bila kondisi ini terus dibiarkan, ada kemungkinan Baduy selanjutnya akan menjadi kawasan yang rawan gizi buruk, pungkas Marni. (Foto & Article dari KOPMAS)

Redaksi
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close