Friday, October 30, 2020
Home > News > Citizen Journalism > AJI Tetapkan Upah Layak Jurnalis Rp8,7 Juta

AJI Tetapkan Upah Layak Jurnalis Rp8,7 Juta


Diskusi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Banten-News | Journalism | Jakarta

Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta merilis besaran upah layak jurnalis pada 2020, Rp8.793.081. Angka tersebut didapat bedasarkan beberapa komponen kebutuhan jurnalis. 

“Misalnya jurnalis membutuhkan laptop, ponsel, pulsa atau paket data untuk menghubungi narasumber,” ujar Sekretaris AJI Afwan Purwanto di Sekretariat AJI Jakarta, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu, 26 Januari 2020.

Afwan menyebut kebutuhan hidup layak ini termuat dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan  Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kebutuhan Hidup Layak. Selanjutnya dituangkan dalam survei yang dilakukan pada November hingga Desember 2019.

Kebutuhan pokok terdiri dari sandang, pangan, dan papan. Terdapat 40 komponen yang dibagi dalam lima kategori serta tambahan alokasi tabungan 10 persen. Semua komponen dialokasi untuk setiap satu bulan. 

Ia memerinci jurnalis harus mendapat alokasi makan Rp3.041.000 per bulan. Ini berdasarkan harga nasi, sayur, ayam, dan teh. Lalu tempat tinggal layak untuk jurnalis Rp1.300.000. 
 
“Jurnalis juga perlu ganti baju, ada komponen celana panjang, kemeja, kaus dalam atau dalaman cewek, celana dalam, sepatu kerja, celana pendek, sandal jepit, jaket, tas ransel, kalau dirata-ratakan per bulan Rp751.682,” papar dia. 

Kebutuhan lain seperti transportasi kerja, pulsa telepon, paket internet, kebersihan, kesehatan, dan kebutuhan bersifat hiburan ditaksir Rp3.048.251. Serta perangkat elektronik mulai dari ponsel hingga komputer jinjing atau laptop diperkirakan Rp350.427 per bulan.  

Jurnalis juga harus memiliki tabungan dari semua kebutuhan di atas 10 persen.”Total sandang, pangan, papan Rp7,9 jutaan, 10 persennya digunakan menabung idealnya,” jelas dia. 

AJI mendorong perusahaan media dapat mencukupi upah jurnalis. Upah minim berpotensi membuat jurnalis tidak dapat bekerja secara profesional.

“Ironinya adalah jurnalis berani memberitakan hal lain sementara terkait standar kebutuhan mereka sendiri tidak berani mereka eksploitasi di media masing-masing,” kata dia. (medcom. id)

Admin
The Resource & Directory Of Banten Today
https://banten-news.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close